Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 April 2017

Penyesalan "Kado Terindah"

April 05, 2017 0 Comments
Pernah nggak sih ngerasa yang namanya menyesal??

Me: Pernah

And you??

Jadi ceritanya itu saat aku umur 15tahun. Diumur yang masih remaja yang banyak kali ngarepnya. Ngarep khayalan jadi nyata. 😂😂

Saat itu ulang tahun pertama ketika aku udah punya pacar. Dan aku yang masih labil itu berharap aja pacarku memberikan aku kejutan, kue dan yang pastinya kado. Berharap bgt dah pokoknya.

Sebelum hari H nya itu aku udah promosiin nih di facebook kalo bentar lagi aku bakalan ultah. Setelah menunggu lama dan akhirnya jumpa juga deh akunya sama hari H. Hari dimana tepatnya umur aku pas 15tahun. Namun ternyata nggak sesuai bayangan bgt deh guys... boro-boro dikasih kejutan, kue atau apalah itu, diucapin selamat aja kagak sama pacarku itu.

Rasanya? Sakit lah bro!!

Alhasil aku pun ngambek selama beberapa hari. Dan tiba-tiba pacarku inbox lewat facebook.

☺ : Selamat ultah ya mier, maaf telat ngucapin. Aku baru selesai buat ini untuk kamu. Dibuka ya sayang.

Dia si pacarku ngirim sebuah link gitu. Aku trus buka di handphone Tapi nggak ada apa-apa. Trus aku marah sama dia.

Me: Apaan tu? Nggak bisa dibuka. Ya elah aku kira mau kasih apaan juga. Kasih gituan nggak ada gunanya!! Aku tak butuh!! Kasih kue kek apa kado. Ini cuma link apaan coba nggak berguna sama sekali..!

😢 : Maaf miera,,,,,,

Iya kurang lebih sih begitu atau mungkin lebih kasar lagi. Ntah la. Aku juga rada-rada lupa.

Setelah aku dan si pacarku putus. Udah beberapa bulan saat aku ultah gitu. Akupun pergi ke warnet untuk buat tugas. Tiba-tiba aku iseng baca-baca inbox yang difacebook antara aku dan Dia. Dan aku coba masuk ke link yang pernah Dia kasih. Dan kalian tau guys apa yang tampil?????

Layar komputernya pertama berubah jadi putih polos. Kemudian tiba-tiba ada sosok kartun Minkey Mouse sedang memegang beberapa balon. Tampak taburan-taburan manik-manik jatuh menghiasi dan mempercantik tampilan. Indah sekali! Kemudian Minkey Mouse pun melepaskan balon. Balonnya terbang kesana kemari perlahan namun masih tampak di layar. Tiba-tiba Minkey Mouse sudah memegang sebuah kue ulang tahun. Dan juga pesan yang pelan perlahan muncul di layar.


Selamat ulang tahun Miera!!
Maaf ya aku telat ngucapinnya.
Soalnya aku buat ini cukup sulit. Aku mau cerita saat pertama kali aku melihatmu aku sudah suka sama kamu. Saat Mos aku udah merhatiin kamu. Saat itu barisan kita deketan. Aku udah cerita sama sahabat aku kalo aku naksir sama kamu sejak pertama kali aku melihatmu. Setelah setahun kemudian ternyata kita ditakdirkan untuk sekelas. Aku sangat bahagia. Namun aku tidak berani untuk mengungkapkannya padamu. Lidahku kelu. Setengah tahun sekelas namun mengobrol denganmu saja aku tidak pernah. Aku mencintaimu diam-diam. Berkat dorongan dari sahabatku akhirnya aku menyatakan cinta padamu lewat facebook. Dan akhirnya kita resmi jadian pada 11 April 2011. Aku seneng banget. Aku janji akan terus bersamamu. Aku syang kamu Miera. Setelah aku dewasa dan mapan aku akan segera melamarmu. Aku janji.


Setelah pesan itu selesai ditampilkan semuanya. Dan selesai juga aku membacanya. Tiba-tiba sesak banget. Aku menyesal udah kasar sama pacarku yang dulu sebelum tau yang sebenarnya. Emang dia tidak memberikan aku kue ataupun kado sesuai harapanku. Tapi dia memberikan sesuatu yang sangat berharga. Yaitu ketulusan dan komitmen. Jujur ini adalah kado terindah selama hidupku.Tapi mau gimana lagi. Yang lalu tidak bisa ku tarik lagi. Mau sekarang aku minta maafpun percuma. Toh mungkin dia sudah tidak peduli lagi.

Jika suatu saat kamu baca tulisanku ini. Aku cuma mau bilang "Maaf". Ya maafkan aku yang dulu. Yang tidak bisa menjaga hatimu. Aku yang dulu tak bisa mengerti relung hatimu. Tidak memahami maksud dari segalanya. Maafkan aku ya..... Cinta Pertamaku


Buat kalian guys... Jangan pernah menyepelekan perhatian seseorang. Terkadang kenyataan beda dengan harapan yang begitu besar. Tapi siapa sangka kenyataan yang kita anggap sepele nyatanya adalah hal yang luar biasa.

Saya Miera Latte cabut. BYE!!!

Selasa, 04 April 2017

Hai..Kamu!

April 04, 2017 0 Comments
Hai kamu....
Iya kamu...
Kok kamu nggak sadar sih...
Aku nyapa kamu loh...
Akh nggak mungkin kamu sadar akan kehadiran diriku
Bukan karena tidak peka
Tapi hatimu bukanlah milikku lagi
Aku masih disini
Iya aku masih setia disini
Bodoh? Ya!!
Tenang aku tidak akan mengusik hidupmu lagi kok
Dengan tingkah konyol ku
Tingkah seakan-akan berharap kau akan balik ke aku
Namun yang ku dapati hanyalah penolakan
Mungkin kau akan sedikit lega tanpa adanya aku
Iya karena ada seseorang yang telah mengisi hidupmu
Tenang aku tidak akan merusak hubungan kalian kok
Aku pun tidak akan memintamu untuk bersamaku lagi
Tapi ntah kenapa relung hatiku masih saja enggan beranjak dari kamu
Bukan ku tak ingin
Namun aku sudah berusaha namun sia sia
Tenang aku tidak akan meminta kau akan membalas prasaan ku
Aku cuma menikmati diam diam
Diam diam masih mengharapkan kau
Walau kenyataan pahit dan tak akan mungkin harapku jadi nyata
Dan aku sadar akan hal itu
Namun aku bisa apa
Aku heran juga pada Sang Raja pemilik hati
Mengapa meletakkan namamu
Nama yang ku rasa mustahil untukku
Namun aku hanyalah manusia biasa
Raja kehidupanlah yang menguasai hatiku
Jika boleh untuk memilih
Aku ingin Sang Raja menghapus namamu direlung hatiku yang terdalam
Dan menggatikannya pada yang bisa ku gapai
Bukan kau yang hanya bisa ku tatap samar-samar penuh kepalsuan
Nyatanya kau telah bersama dirinya

Jumat, 31 Maret 2017

Siapa yang Salah?

Maret 31, 2017 0 Comments
Alexandrio Pareda. Cowo bermarga pareda dan merupakan murid pindahan dari Manado. Tak banyak yang ku tau awalnya.

Awalnya yang ku ketahui dia merupakan penghuni kelas IPA disebelah kelas sedangkan aku penghuni kelas IPS disebelahnya. Kelas kami bersebelahan. Tidak sampai 5menit untuk sekedar bertemu dengannya. Bahkan hanya butuh beberapa langkah.

Tepatnya malam Minggu tiba-tiba ada nomor yang tidak ku ketahui yang ternyata adalah nomornya. Dari mana dia mendapatkan nomorku. Akupun tidak tahu. Dia sepertinya berusaha untuk mengenalku lebih jauh. Namun harapanya ku tangkis dengan alasan perbedaan agama diantara kami. Dia beragama Protestan sedangkan aku Islam. Ya walaupun sebenarnya aku masih jarang solat tapi aku tetap mengakui agamaku. Aku memberikannya ultimatum bahwa aku akan senang jika dia mau berteman denganku dan tidak lebih dari teman. Tapi ntah kenapa dan ntah apa yang dia pikirkan dia terus saja menyatakan cintanya padaku. Beberapakali sempat ku tolak dan dia tanpa menyerahpun selalu berusaha.

Akhirnya atas hasil musyawarah antara aku dan sahabat-sahabatku maka aku pun menerimanya. Ya itu merupakan usulan dari sahabatku karena tidak tega melihatnya dan tidak ingin menyakitinya maka akupun memberikan dia kesempatan.

Terkadang saat aku sedang bosan dengan penjelasan guru dia sengaja melambaikan tangan lewat jendela hanya untuk memberikan ku semangat. Setiap istirahat Ia selalu datang ke kelas untuk mengajakku ke kantin bareng. Ia selalu membawa gitar dan bernyanyi untukku dikelas. Tanpa menghiraukan tatapan mata seisi kelasku dia selalu saja memberi perhatiannya padaku. Aku menjaga perhatiannya agar masih dalam batas wajar karena ini merupakan sekolah. Setiap pulang sekolah aku ataupun dia saling menunggu untuk pulang bersama. Aku naik diatas motornya yang besar. Sedangkan Ia mengendarai di depan. Aku selalu marah dan menepuk pundaknya setiap kali Dia membawa dengan kecepatan tinggi. Aku memiliki trauma. Aku tidak bisa dan aku sangat takut ketika dibonceng dengan kecepatan yang tinggi akupun berteriak tidak peduli orang berkata apa. Dan dia selalu ngomel-ngomel ketika aku menepuk pundaknya dan menyuruhnya untuk menurunkan sedikit laju kendaraannya. Aku tidak pernah sekalipun memeluknya saat dia memboncengku walaupun dia beberapa kali meminta dengan alasan agar aku tidak jatuh. Tapi aku menolaknya. Bukan berarti aku tidak menyayanginya. Hanya saja aku belum terbiasa akan itu dan aku juga segan terhadap orang-orang yang nanti melihat sedangkan kami masih memakai baju sekolah.


Dia mengantarkan aku ke rumah. Ya tak banyak yang tau akan alamat rumahku. Rumahku begitu sederhana. Tapi aku beruntung dia tidak pernah mempermasalahkan keadaanku. Aku bersyukur dia mau menerimaku apa adanya.

Suatu hari dia tidak ada dikelasnya. Kata teman kelasnya Rio sakit. Ya aku memanggilnya Rio. Aku tidak sempat untuk menghubunginya tadi pagi. Sepulang sekolah akupun ke rumahnya menaiki angkot. Ku tatap rumah dihadapanku ragu-ragu. Apa benar ini rumah pacarku ya. Akupun segera menghubunginya karena mustahil dia mendengarkanku jika aku memanggilnya melihat begitu besar rumahnya.

Diapun keluar sambil ngomel-ngomel. Aku tak peduli. Aku balas kembali dengan omelan. Dia mengajak ku untuk naik ke lantai atas. Dia menunjukkan satu ruangan tempat dia bermain musik. Terlihat disana beberapa gitar yang aku tidak tau gitar apa saja itu. Drum, keyboard,  dan ntah la aku tidak memperhatikannya lagi ketika perhatianku tertuju saat dia pacarku menekan-nekan piano. Merdu sekali. Aku tak menyangka dia begitu jago bermain piano. Aku menikmani setiap alunan tiap nadanya. Sampai nada itu tak terdengar lagi.

"Mau belajar main musik?" Tanya Rio melirikku

-- aku hanya diam masi ragu-ragu untuk menjawab

"Ayolah" ajaknya menarik tangaku dan menyuruhku duduk di sampingnya.

"Aku tak pandai." Jawabku polos. Ya aku memang tidak pandai segalanya tentang seni yang salah satunya adalah musik.

"Kalo belajar pasti bisa. Yuk aku ajari." Ucapnya antusias

Akupun ikut antusias. Aku senang dia mau menawarkan aku sebagai muridnya dan dialah guru pianoku. Aku benar-benar senang diajari olehnya. Walaupun aku sangat lambat sekali untuk paham, ingat dan lancar akan yang diajari olehnya.


Setiap ada waktu aku ke rumahnya untuk berlatih piano. Mamanya pun sangat ramah padaku.

Ketika dia ada tanding futsal dia selalu mengajakku menemaninya. Akupun selalu memberikannya semangat. Walau tidak bisa membantu banyak aku tau dengan kehadiran dan semangatku dia akan semakin hebat dan mengalahkan lawan-lawanya saat bermain futsall.

Begitupun sebaliknya saat aku ada latihan basket dan renang. Diapun menyemangatiku. Walau tak menemaniku tapi dia selalu mengantarkan dan menjemputku. Itu sudah lebih dari cukup untukku.

Perlahan yang awalnya aku benar-benar tak memiliki perasaan terhadapnya kemudian sadar bahwa akupun perlahan membuka hatiku untuknya. Apakah ini cinta? Ntah la. Senang dan sedih itu satu paket. Benar bukan? Dan ada keganjalan dalam hubunganku dengannya yang selama ini aku tutupi. Aku dan dia berbeda. Ya. Nama Tuhanku dan Tuhannya berbeda. Tempat ibadah ku dan dia berbeda. Dan kitabku serta kitabnyapun berbeda. Aku tidak bisa pungkiri akan hal itu. Aku dan dia merahasiakan hal ini kepada orangtua kami. Kami takut ketika ada yang tau pastilah hanya pertentangan yang akan kami peroleh.

Hari berganti minggu berganti bulan dan berganti tahun. Setahun sudah hubunganku dengannya berjalan dengan lancar-lancar saja. Ya namun jujur masi ada ketakutan dalam relung hatiku tentang kepastian hubungan ini. Ada rasa berkecamuk. Ntah la. Sulit untuk aku jabarkan rasa ini. Aku berpikir seandainya aku tidak menerima usulan sahabatku untuk menerimanya tentu tidak seperti ini jadinya. Pikiranku pun ku tangkis kembali ketika ingat kebersamaan kami. Akupun mulai melupakan keganjalan sebenarnya. Ya begitu seterusnya tanpa aku tau akhirnya.

Kian Hambar

Maret 31, 2017 0 Comments
Aku mangut-mangut menatap ponselku. Tidak ada sesuatu yang berubah. Jangankan telpon bahkan pesan singkat saya tidak hadir.

Aku hempaskan tubuhku diatas kasur setelah pulang bekerja. Rasanya sangat lelah tidak seperti biasanya. Ya rasa lelah hatiku menjalar dan menjangkiti tubuhku. Aku memejamkan mata. Membayangkan seseorang.

"Sedang apa dia?" Pikirku

Seketika hadir bayang seseorang yang ku rindui. Seorang pria tersenyum tipis padaku. Ia tampak membenarkan kacamatanya yg silau-silau kehijauan itu. Mengerutkan dahinya. Ia mematung membisu. Ingin sekali aku merangkulnya namun ku urungkan niat tersebut. Aku hanya bukam menatapnya. Iapun balas menatapku tajam. Seketika menghilang.

"Yah.... cuma khayalan" seketika juga aku membuka mata. Dan kembali ke alam sadarku.

Aku kembali meraih ponselku. Ku tatap layarnya lekat-lekat. Terasa ada yang bergaung-gaung dalam telingaku mengatakan agar aku segera menghubunginya. Tapi ada yang bergejolak dari arah yang lain menahanku untuk menekan tombol hijau. Yah... aku terlalu gengsi untuk menghubunginya. Tapi jika aku terus bertahan atas gengsiku tentu aku akan semakin khawatir dan rindu. Ada rasa berkecamuk dalam dadaku. Sesak. Kutangkis segala rasa dan mulai memencet-mencet tombol ponselku.

Lagi apa? -Send

Kemudian sejam kemudiam datang balasan dari nomor tadi.

-Lagi di Cafe-

Kemudian tampak nomor tersebutpun menghubungiku. Aku sontak kaget apakah harus mengangkatnya ataupun tidak. Jika ku angkat harus berkata apa aku? Dan jika tidak ku angkat apa yang nanti dipikirkan cowo itu. Eittss... tunggu! Dia lagi dinner? Dengan siapa? Ntah la bahkan rasanya kepalaku mau pecah membayang hal yang benar-benar tidak ku ketaui. Mungkin saja dia telah bersama yang lain. Tak ku pedulikan lagi si dia yang sedang menghubungiku sampai panggilanpun terhenti.

Apa arti sebuah hubungan ini menurutnya aku pun tidak tahu. Jelas sekali Ia yang memulai untuk hubungan ini. Hubungan yang katanya pacaran namun tidak ada tanda-tanda pacaran yang ku perhatikan. Hanya awal-awalnya saja selalu mengirim kabar dan bertemu, mengobrol dan menghabiskan waktu bersama. Ya hanya awalnya saja. Bahkan setelah itu sekedar memberi kabar saja jarang. Akupun begitu sama sepertinya. Aku tak berusaha memperbaiki hubungan ini. Hingga hubungan ini kian hari kian hambar dan membosankan. Akupun enggan bertanya serta menutut lebih. Aku hanya mengikuti alurnya saja. Aku percaya jika memang dia mencintaiku tentulah Ia akan berjuang keras untuk itu. Tapi dia tetap bersikap hambar, aku tidak akan mencegahkannya karena ku yakin mungkin benar dia tidak serius mencintaiku. Aku juga tidak akan mau menjadi pengemis cinta hanya untuk mengutip keping-keping perhatiannya. Aku lebih memilih menyibukkan diriku dengan berbagai hal hanya sekedar mengusir sepi. Yah sepi. Disini aku setia menunggunya ya sekedar menunggu. Namun yang ditunggu terkadang tidak sadar akan hal itu. Aku hanyalah manusia biasa. Menunggu ku bisa saja memahat sedikit demi sedikit rasa sayangku. Hingga pahatan itupun semakin tak karuan dan bisa saja digantikan oleh yang lain.